Wednesday, July 31, 2013 0 komentar

Hanya Satu Kuncinya: Ikhlas

Intisari-Online.com – Suatu tengah malam. Seorang teman lama mengirim pesan pendek lewat ponsel, “Sore tadi rumah saya terbakar.” Saya kaget. Ia seorang yang ulet bekerja, pandai membawa diri, tak suka menyakiti hati orang lain, ramah pada siapa pun. Ia sisihkan gajinya bulan demi bulan, sampai akhirnya mampu mencicil rumah tipe 36 di kawasan Tangerang. Bersama istri dan ketiga anaknya, ia isi rumah itu dengan kehangatan, kebersahajaan, dan kebahagiaan.

Kini rumah itu telah musnah atapnya. Tetangga sebelah teledor, hingga terjadi hubungan pendek arus listrik. Kebakaran itu melalap separuh rumah, sebelum menyambar rumah teman saya tadi. Terpukul, tentu. Wajahnya kuyu, tubuhnya lemas. Habis sudah jerih payahnya selama ini. Sepertiga gajinya untuk mencicil, sepertiga lagi untuk sekolah anak, dan sisanya untuk makan dan transport. Dari mana lagi uang untuk memperbaiki rumah?

Ditambah ada tetangga bermulut jahat, mengumbar kecurigaan: bukan tak mungkin sumber api berasal dari rumah teman saya. Ia marah, hampir meledak. Kuduknya tegang. Saya mencoba menenangkan sekenanya, “Ini cobaan Tuhan. Tabah, sabar, tawakkal.” Matanya sedikit menyala.

Esok lusanya saya bertandang lagi. Syukurlah, wajahnya lebih tenang. Kami mengobrol sambil duduk bersila di rumah tumpangannya. Tak dinyana, kemarin teman-temannya di kantor lama menggalang dana. Bantuan finansial pun bercucuran ke rekeningnya. Apa yang membuat segala kemudahan terbuka baginya?

Cerita ia, ketika salat, segala kemarahan, sakit hati, kebencian, buruk sangka, putus asa, segala perasaan dan pikiran negatif, ia lepaskan dalam hampa, hati merongga, ia merasakan kekosongan tanpa ruang, tanpa tepi. Saat tangan menengadah, dirinya seperti menganga. Itulah detik-detik ia merasa hatinya teramat ringan, sehingga musibah terasa anugerah.

Sejurus kemudian, segala kebuntuan tersibak. Tetangga menawarinya tumpangan dan mengirimi makanan, teman-teman mulai berdatangan, rekening banknya mulai menggeliat, RT/RW siap membantu sebagian biaya renovasi, dsb. Malah, ia berbisik, kini uangnya mulai berlipat kali dibandingkan sebelum kebakaran. Kuncinya hanya satu kata: Ikhlas. (Intisari)

0 komentar

Hidup untuk Saling Melengkapi

Intisari-Online.com – Ada seorang tua yang tinggal di sebuah desa pada lereng pegunungan. Orang tua tersebut sudah lama bekerja sebagai penjaga kebersihan, yang dibayar oleh Pemerintah setempat. Tugasnya adalah membersihkan dedaunan dan kotoran dari mata air serta sungai-sungai yang mengalir di desanya. Dengan setia dan tanpa banyak bicara, ia berpatroli di bukit-bukit, membuang daun, ranting, dan cabang-cabang pohon, serta lumpur yang menghambat aliran air.

Lama-kelamaan, desa itu menjadi tempat yang dikenal banyak orang dan menjadi salah satu tempat tujuan wisata. Angsa yang anggun berenang di aliran sugai bening, tanah pertanian dengan irigasi alamiah, barbagai tempat usaha dan restoran, serta lampu-lampu aneka warna, semakin memperindah pemandangan desa tersebut.

Tahun demi tahun pun berlalu, Di suatu sore pemerintah desa tersebut mengadakan rapat tahunan. Ketika mereka meninjau kembali pengeluaran selama ini, salah seorang memperhatikan adanya uang yang dibayarkan untuk seorang penjaga kebersihan.

"Siapa orang ini? Mengapa kita terus membayarnya dari tahun ke tahun? Kita pun tidak pernah melihat dia melakukan pekerjaannya, bukan? Kita rasa kita sudah tidak lagi memerlukannya,” kata salah satu anggota di rapat itu. Maka mereka semua yang hadir pun sepakat untuk tidak lagi mempekerjakan orang tua tersebut.

Selama beberapa minggu, tidak ada sesuatu yang berubah. Namun menginjak satu bulan setelah orang tua itu tidak lagi di izinkan bekerja oleh pemerintah desa, mulai terlihatlah dedaunan di sana sini, ranting-ranting yang berjatuhan dan kemudian mulai menghambat aliran air.

Air sungai yang tadinya sangat bening, kini mulai tampak keruh. Hingga pada akhirnya mulai juga tercium bau tidak sedap dari aliran air tersebut. Angsa-angsa indah yang tadinya berenang riang gembira di sungai itu, kini telah pergi. Sampai akhirnya berbagai penyakit pun melanda desa karena kebersihan tidak diperhatikan seperti dahulu.

Menyadari keputusan mereka yang salah beberapa waktu lalu, akhirnya Pemerintah desa kembali memanggil dan mempekerjakan orang tua penjaga kebersihan itu. Dalam waktu beberapa minggu, air sungai menjadi bersih kembali, dan segalanya berjalan lancar seperti sedia kala. Warga desa pun bergembira dan terlihat sukacita serta damai sejahtera memenuhi hati mereka, tatkala mereka melihat desa mereka menjadi bersih kembali.

Terkadang kita terlalu cepat dan salah dalam menduga, serta gegabah dalam bertindak. Ada orang-orang yang kita pandang tidak begitu penting kehadirannya dan apa yang dikerjakannya. Mungkin kita juga sering merendahkan seseorang dengan berkata, “Tanpa kamu pun saya bisa melakukan dan mengerjakannya sendiri. Tanpa kamu pun segalanya tetap akan berjalan dengan baik.” Apakah dengan meremehkan pekerjaan seseorang, lantas kita dapat melakukannya lebih baik? Sekalipun tidak. Sudah seharusnya kita dapat mencontoh teladan yang diberikan kepada kita.

Kita dapat belajar untuk senantiasa menghargai setiap orang dan apa yang sudah mereka lakukan. Masing-masing dari setiap pribadi kita memiliki kelebihan dan kekurangan. Untuk itulah kita saling melengkapi.  (*)

Saturday, July 27, 2013 0 komentar

Tukang Cukur Kena Batunya

Intisari-Online.com – Sore itu tukang cukur sedang menggarap seorang pelanggannya. Di antara perbincangan yang biasa, tiba-tiba si tukang cukur berkata, “Saya tidak percaya Tuhan itu ada.”

“Kamu berkata begitu?” tanya si pelanggan.

“Begini, coba Anda perhatikan di luar sana, di jalanan itu, lihat ada yang sakit, ada juga anak yang terlantar. Jika Tuhan itu ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan. Saya tidak dapat membayangkan Tuhan yang penuh kasih akan membiarkan semua itu terjadi,” kata si tukang cukur sambil menunjuk ke arah jalan untuk memastikan Tuhan itu tidak ada.

Si pelanggan diam dan berpikir sejenak, tapi ia tidak ingin menanggapi karena tidak mau beradu pendapat. Setelah tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya, si pelanggan pun membayar kemudian pergi meninggalkan tempat itu.

Beberapa saat kemudian, si pelanggan melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak gimbal, kotor, dan rambutnya benar-benar sangat tidak terawat.

Pelanggan itu tiba-tiba kembali lagi ke tempat tukang cukur dan berkata, “Kamu tahu, sebenarnya tukang cukur itu tidak ada.”

Si tukang cukur tidak terima, ia menjawab, “Anda kok bisa bilang begitu? Saya ada di sini, dan saya adalah tukang cukur. Dan baru saja saya mencukur Anda!”

“Tidak!” bantah si pelanggan. “Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan acak-acakan seperti orang di luar sana itu.” Pelanggan itu menunjuk ke luar ke arah orang yang rambutnya tidak terawat.

“Ah, tidak, tapi tukang cukur tetap ada. Apa yang Anda lihat itu salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang kepada saya,” jawab si tukang cukur membela diri.

“Cocok dan sangat benar!” kata si pelanggan menyetujuinya. “Itulah yang utama. Sama dengan Tuhan. Tuhan itu ada. Bahkan kasihNya kepada kita selalu ada dari dahulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya. Namun banyak orang tidak bersedia mencari dan datang kepadaNya.”

Si tukang cukur terbengong-bengong mendengarnya serta menyadari kesalahannya. (*)

Friday, July 26, 2013 0 komentar

Kekuatan Cinta

Intisari-Online.com - Sejak awal, keluarga gadis ini keberatan akan cinta sang pria. Mereka tidak setuju atas latar belakang keluarganya. Keluarga gadis seperti yakin bahwa gadis itu akan menderita selama hidupnya jika memutuskan hidup bersama pria itu.

Karena tekanan keluarganya, pasangan ini sering bertengkar. Meskipun gadis itu mencintai pria itu secara mendalam, ia selalu bertanya, “Seberapa dalam cintamu padaku?”

Sebagai seorang pria yang tidak suka dengan kata-kata itu, ia sering kali menyebabkan gadis itu menjadi sangat marah. Dengan ini dan tekanan keluarganya, gadis itu sering melampiaskan kemarahan pada dirinya.

Setelah beberapa tahun, pria itu akhirnya lulus dan memutuskan untuk melanjutkan studinya ke luar negeri. Sebelum berangkat, ia mengusulkan kepada gadis itu, “Saya tidak dapat berkata-kata dengan baik, tapi yang saya tahu adalah bahwa saya sangat mencintaimu. Jika engkau mengizinkan, saya akan mengurusmu selama sisa hidupku. Saya akan mencoba yang terbaik untuk berbicara dengan keluargamu. Maukah kau menikah denganku?”

Gadis itu setuju, dan dengan tekad pria itu, keluarga akhirnya menyerah dan setuju untuk membiarkan mereka menikah. Jadi, sebelum pria itu pergi, mereka bertunangan.

Gadis itu kemudian bekerja, sedangkan tunangannya melanjutkan studi ke luar negeri. Mereka tetap berkomunikasi dan berbagi cinta melalui surat elektronik dan telepon. Meskipun sulit, keduanya tidak pernah berpikir untuk menyerah.

Hingga suatu hari sang gadis mengalami kecelakaan hebat, dan ia kehilangan suaranya. Gadis itu tidak ingin orang lain tahu. Ia tidak ingin lagi menjadi beban pria itu, maka ia menulis surat kepadanya dan mengatakan bahwa ia tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Ia mengirimkan cincin pertunangannya. Ia tidak mau menerima panggilan telepon dari pria itu dan menjawab surel darinya.

Akhirnya keluarganya memutuskan untuk pindah tempat tinggal, berharap gadis itu bisa melupakan semua dan berbahagia kembali. Di lingkungan barunya, gadis itu belajar bahasa isyarat dan memulai hidup baru. Ia berusaha melupakan pria itu. Hingga suatu hari, temannya datang dan mengatakan bahwa pria itu sudah kembali pulang. Gadis itu meminta temannya untuk tidak memberitahukan kepada pria itu apa yang terjadi padanya.

Setahun berlalu, temannya kembali datang dengan sebuah amplop yang berisi kartu undangan pernikahan pria itu. Gadis itu merasa hatinya hancur. Ketika ia membuka amplop itu, ia melihat namanya tertulis di dalamnya.

Ketika ia hendak bertanya pada temannya apa yang terjadi, pria itu sudah berdiri di depannya. Ia menggunakan bahasa isyarat, yang mengatakan, “Saya telah menghabiskan waktu setahun belajar bahasa isyarat. Hanya agar engkau tahu bahwa saya tidak akan melupakan janjiku. Berikan aku kesempatan untuk menjadi suaramu. Aku cinta kamu.” Lalu, ia menyelipkan cincin itu kembali ke jari gadis itu.

Gadis itu akhirnya tersenyum. (*)

Tuesday, July 23, 2013 0 komentar

Melepaskan Belenggu

Intisari-Online.com – Seorang murid bertanya pada Guru, bagaimana cara melepaskan belenggu yang ada didalam hati? Guru itu bertanya, “Siapa yang membelenggumu?”

Murid itu menjawab, “Aku sendiri. Tetapi mengapa aku tak berhasil melepaskan diriku?”

Sang Guru bertanya lagi, “Salah siapa kalau begitu? Tidak ada yang dapat membuatmu menderita kecuali dirimu sendiri.”

Selalu tanpa kita sadari, kita terus mengikat diri kita. Kita …

Ingin bahagia, tapi tak mau berhenti bersedih.
Ingin melupakan derita, tapi pikiran terus mengingat.
Ingin memaafkan, tapi hati terus membenci.
Ingin melepaskan beban, tapi tangan terus mencengkeram.
Ingin bebas leluasa, tapi tak mau membuka ikatan.
Sang Guru bertanya lagi pada muridnya, “Siapakah yang dapat melepaskan kalung lonceng yang terikat di leher harimau?”

Semua murid diam, bingung tak tahu jawabannya. Guru bijak itu akhirnya berkata, “Dia yang mengikatkan kalung lonceng itu yang tahu cara melepaskannya.”

Hanya kitalah yang dapat melepaskan ikatan, sebab kitalah yang telah mengikat diri kita sendiri. Tetapi mengapa selalu tidak bisa?

Bukan tidak bisa, tapi kita yang tak mau.
Bukan tak bisa bahagia, tapi hati tak mau bahagia.
Bukan tak bisa senyum, tapi hati tak mau senyum.
Bukan tak bisa melupakan, tapi hati tak mau melupakan.
Bukan tak bisa berubah, tapi hati tak mau berubah.
Bukan tak bisa mengampuni, tapi hati tak mau mengampuni.
Tak ada yang dapat membuka belenggu hati sampai kita MAU membukanya sendiri. Mintalah pertolongan dari Tuhan yang akan membuat kita mampu. (SD)

 
;